Pilkada Makassar Barometer, Pengamat: Jangan Saling Jegal, Berpolitik Secara Elegan   

  • Whatsapp
ILUSTRASI

MAKASSAR – Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Iwan Alim, mengatakan Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar bakal menjadi barometer penyelenggaraan pesta demokrasi di kawasan timur Indonesia.

Olehnya, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut meminta kepada semua kandidat agar hendaknya memperlihatkan cara berpolitik yang elegan supaya menciptakan edukasi di tengah masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Sangat menarik apabila keempat pasangan calon yang menjadi kontestan di pemilihan ini bertarung secara gentle tanpa perlu memainkan politik yang tidak sehat,” kata Iwan, saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2020).

Kendati demikian, dia menyebut, syahwat politik yang berimplikasi pada ambisi ingin menang merupakan sesuatu yang lumrah. Namun, Iwan berpesan bahwa jangan juga karena terlalu berambisi, sehingga segala cara dihalalkan untuk keluar menjadi pemenang.

Dia melihat, minus kurang lebih dua bulan menjelang pemilihan pada 9 Desember 2020 mendatang, biasanya upaya saling jegal mulai terlihat dan dimainkan oleh kubu kandidat tertentu.

Iwan mengatakan, ada satu isu yang paling sering muncul dan paling sering dimainkan oleh pihak tertentu yang merasa punya kompetensi dan kekuatan dalam menggiring isu ini, yaitu politik uang. Isu itu disebutnya seringkali menjadi ancaman, bahkan berubah menjadi senjata ampuh ketika digunakan sebagai strategi oleh pihak tertentu.

“Mengingat sanksi dari pelaporan ini adalah proses kecil menuju kemenangan bagi kompetitor lain, manakala hukum menjadi batu sandungan yang bisa membuat orang harus tereliminasi dari pertarungan. Tidak sedikit kita lihat dinamika Pilkada di Indonesia yang diwarnai dengan adu kekuatan di depan hukum, yang akhirnya hukum dan penegaknya mempertaruhkan kewibawaannya dalam sebuah perhelatan politik yang periodik,” terang Iwan.

Dia menyampaikan, dari seluruh persoalan yang muncul dan akan timbul nantinya, tentu diharapkan bersama adalah netralitas para penyelenggara Pemilu, terutama KPU dan Bawaslu. “Netralitas dan kredibilitas penyelenggaraan Pemilu akan menjadi kunci kesuksesan penyelenggaraan demokrasi 5 tahunan ini,” kunci Iwan.(*)

 

Reporter: M. Yanudin

Editor: M. Yanudin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *