Imigrasi Makassar Sebut TKA yang Meninggal Dunia di Bantaeng Punya Izin Tinggal

  • Whatsapp
Kepala Kantor Imigrasi Makassar, Agus Winarto

MAKASSAR – Kepala Kantor Imigrasi (Kakanim) kota Makassar Agus Winarto menyebut dua Tenaga Kerja Asing (TKA) dari China di PT Huadi Nickel Alloy Kabupaten Bantaeng yang meninggal dunia usai mengalami kecelakaan kerja, memiliki izin tempat tinggal oleh Keimigrasian.

TKA bernama Zhang Jian dan Liu Baicheng tersebut, kata Agus, telah diurus pihak Imigrasi kemudian mayatnya dipulangkan ke Negara-nya.

Bacaan Lainnya

“Itu kemarin sudah ditangani sama pihak Imigrasi dan sudah dikirim pulang kalau tidak salah. Tidak ilegal kalau yang di Bantaeng, itu ada ijin tinggalnya. Tidak ilegal, kan ada izin tinggalnya, ” ujar Agus saat ditemui di kantor Imigrasi Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan, Selasa (8/12/2020).

Baca Juga :  KPU Makassar Rampungkan DPSHP di Tingkat Kelurahan

Hanya saja ketika ditanyakan terkait jumlah TKA yang bekerja di PT Huadi Nickel Alloy kabupaten Bantaeng, Agus enggan membeberkan dan menganjurkan untuk kembali dikonfirmasi di lain waktu.

“Nantilah kalau itu,” singkat Agus, ditemui seusai rapat koordinasi dengan sejumlah instansi menjelang Pilwali Makassar 9 Desember 2020, yakni, KPU, Bawaslu, TNI dan Polri.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan informasi dua  TKA asal Cina itu meninggal dunia usai mengalami kecelakaan kerja, Ahad (8/11/2020) lalu. Penyebab kematian TKA tersebut sejauh ini belum diketahui.

Selain dua TKA itu, jauh sebelumnya kecelakaan kerja juga pernah terjadi yang mengakibatkan seorang mahasiswa training di PT Huadi Nickel Alloy meninggal dunia, Ahad (27/9/2020). Korbannya bernama Aidul Fitra (19), mahasiswa dari Akademi Komunitas Industri Manufaktur (AKOM) Bantaeng.

Informasi kala itu Aidul Fitra  meninggal akibat hantaman besi pada bagian dada saat bekerja.

Namun berbeda kronologis kematian kedua TKA asal Cina yang hingga kini belum diketahui, bahkan status masuk ke Indonesia belum jelas.

Baca Juga :  Mau Kabur, Residivis Curanmor di Makassar Dihadiahi Timah Panas

Diketahui, PT Huadi Nickel Alloy adalah pabrik smelter yang berlokasi di Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng.  PT Huadi Nickel-Alloy diresmikan oleh Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah pada tahun 2019 lalu.

Perusahaan ini bergerak sebagai pengelolaan nikel di Shanghai, Tiongkok, yang bekerja sama dengan PT Duta Nikel Sulawesi. Bermula pada 2012, Huadi mendasari investasi dari UU Nomor 4/2009, soal pertambangan mineral dan batubara, yang menyatakan bahan mentah tak bisa ekspor. Melalui penjajakan dan kesediaan listrik, Bantaeng pun jadi salah satu tujuan.

Dikutip dari berbagai sumber, Gubernur  Nurdin Abdullah pernah menyatakan bahwa TKA di PT Huadi Nickel Alloy  atau yang dikenal  nama Smelter Bantaeng merupakan tenaga teknis dan bukan pekerja kasar atau buruh.

Nurdin  mengatakan tenaga kerja luar yang teknisi itu jumlahnya sedikit, dan itupun sudah hampir dan perlahan akan berkurang.

Baca Juga :  JPU Akan Hadirkan Tiga Saksi dalam Sidang Perkara Dugaan Korupsi Anak Perusahaan Pelindo IV

“Dengan serapan tenaga kerja 2.000, kita orang Bantaeng tinggal satu yakni bagaimana kita mensyukuri apa yang sudah ada. Jangan dirongrong, kalau mau merongrong ingat masa lalu kita siapa yang melirik Bantaeng,” ujarnya pada acara peresmian Smelter Bantaeng seperti dikutip dari Antara.

Nurdin menjelaskan, pemerintah sejak awal telah berkomitmen bagaimana mendorong pemberdayaan tenaga kerja lokal di perusahaan tersebut. Untuk itu, dirinya menjelaskan bagaimana putera-puteri Bantaeng terus dipersiapkan untuk menjadi SDM yang berkualitas seiring dengan pembangunan industri tersebut.

“SDM-nya juga dibangun (saat industri dibangun), kita kirim ke China, saya dengan Pak Amir (Komisaris PT. Huadi) supervisi ke sana. Jadi mereka sudah bekerja di perusahaan smelter dan menjadi leader,” jelas Nurdin kala itu yang pernah menjadi Bupati Bantaeng selama dua periode.(*)

 

Reporter: Akbar

Editor: M. Yanudin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *