IDI Makassar Soroti Surat Edaran Pj Wali Kota yang Memberikan Kelonggaran Aktivitas

  • Whatsapp
Dewan Pembina IDI Makassar, dr Idrus Paturusi (foto:Facebook)

Makassar – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti kebijakan Penjabat (Pj) Wali Kota Makassar, Prof Rudy Djamaluddin yang memberi kelonggaran aktivitas masyarakat di tengah terus meningkatnya angka kasus Covid-19.

Dewan Pertimbangan IDI Makassar, dr Idrus Andi Paturusi menilai keputusan Pj Wali Kota keliru. Sebab kondisi Covid-19 di Kota Makassar sudah sangat memprihatinkan.

“Apa yang diambil Pj Wali Kota Makassar sangat kontra dengan kondisi di lapangan. Di tengah peningkatan pasien positif Covid-19, justru memberikan kelonggaran beraktivitas,” katanya, Selasa (12/1/2021).

Mantan Rektor Universitas Hasanuddin ini menjelaskan, sejak awal tahun 2021 terus terjadi peningkatan positif Covid-19. Di mana kota Makassar, kata dia, menjadi episentrumnya.

Idrus Paturusi membeberkan, bahwa data tertular Covid-19 di Sulsel terus mengalami peningkatan, mulai 1 Januari 2021 sebanyak 550 kasus, 2 Januari 2021 berjumlah 590 kasus, 3 Januari 2021 595 kasus, 4 Januari 2021 510 kasus, 5 Januari 2021 639 kasus, 6 Januari 2021 463 kasus, 7 Januari 2021 366 kasus, 8 Januari 2021 588 kasus, 9 Januari 2021 580 kasus, 10 Januari 2021 585 kasus, dan 11 Januari 2021 sebanyak 616 kasus.

“Kita melihat data baik peningkatan kasus baru maupun kematian dan penggunaan RS (Rumah Sakit), maka agak membingungkan isi surat edaran wali kota. Kemarin satu lagi dokter wafat. Minggu lalu 3 Professor di Makassar wafat. RS dan hotel isolasi mandiri penuh, IDI sudah mengingatkan, tapi hasilnya seperti ini. Yang ditakutkan kalau dokter bersama nakes (tenaga kesehatan) sudah berjatuhan maka pelayanan bisa lumpuh, kebijakan Pj Wali Kota Makassar ini juga sangat bertentangan dengan imbauan IDI untuk senantiasa tidak menganggap remeh pandemi Covid-19, ” ungkapnya.

Sorotan lain juga datang dari Ketua IDI Kota Makassar, dr Siswanto Wahab. Dia mengatakan, makin banyaknya dokter yang gugur justru semakin menyadarkan masyarakat agar jangan menganggap remeh pandemi Covid-19.

Di mana tingkat penyebarannya lebih massif, kata dia, akibat Klaster Pemilihan Kepala Daerah dan Klaster Liburan akhir tahun. Apalagi dokter yang gugur menjadi pahlawan kemanusiaan Covid-19 sudah ada 11 dokter terbaik anggota IDI Kota Makassar meninggal dunia.

“Untuk itu, IDI Kota Makassar mengimbau agar tetap waspada serta disiplin protokol kesehatan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), sebab Makassar masuk zona merah sehingga kebijakan pelonggaran aktivitas bisnis, perkantoran, sosial, dan pendidikan perlu diketatkan kembali. Dengan mematuhi 3 M itu, upaya yang paling efektif dan efisien bisa kita lakukan dalam menekan laju Covid-19,” terangnya.

Apalagi saat ini, lanjut dia, tingkat penularan Covid-19 kembali melonjak dan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan juga semakin banyak. Belum lagi adanya varian baru virus corona atau SARS-CoV-2 yang ditemukan di Inggris. Dokter Anto mengatakan, penularan varian baru virus corona B117 ini, bisa mencapai 70 persen lebih berbahaya.

”Okupansi ruang isolasi di Makassar sudah di atas 85 persen dan ICU (unit perawatan intensif) di atas 80 persen. Daerah-daerah lain juga sama saja, pasien terus bertambah ‘penularannya tinggi’,” sebutnya.

Dokter Anto menjelaskan, tingginya penularan Covid-19 di Indonesia juga bisa dilihat dari data awal tahun kembali pecahkan rekor positivity rate capai 36,6 persen. Data harian positivity rate Indonesia ini sudah lima kali jauh lebih tinggi dari ambang maksimal yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 persen.

Kasus aktif di Indonesia juga terus meningkat secara signifikan dampak dari klaster Pilkada dan klaster liburan Tahun baru . IDI Kota Makassar sudah mengingatkan bahayanya, terbukti saat ini kenaikan melonjak tajam dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

“Di mana sejak memasuki 2021, Sulsel hari demi hari terus cetak rekor. Di antara rekor yang tertular virus Covid-19, sejak awal tahun hingga saat ini jika dirata-ratakan 500-an kasus yang terpapar Covid-19 setiap hari di Sulsel. Makassar sebagai pusat episentrumnya, ” pungkas Anto .

Sementara itu, Humas IDI Kota Makassar dr Wachyudi Muchsin menambahkan adanya keputusan pelonggaran pembatasan aktifitas malam Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar pertanda ketidakpekaan terhadap kondisi dokter dan nakes.

“Serta kondisi saat ini tingginya Covid-19 di Sulsel, di mana Makassar sebagai episentrum sungguh sangat disayangkan di saat angka meninggi malah buat aturan baru aktivitas usaha diperpanjang sampai pukul 22.00 WITA. Sebelumnya, hanya hingga pukul 19.00 WITA, ” keluhnya.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Di mana Pemkot Makassar memberi kelonggaran terhadap pelaku usaha untuk beroperasi hingga pukul 22.00 WITA, yang sebelumnya hanya sampai pukul 19.00 WITA.

Penerapan tersebut diatur dalam Surat Edaran (SE) Nomor 443.01/11/S.Edar/Kesbangpol/I/2021 ditandatangani oleh PJ Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin pada 11 Januari 2020. Dalam surat edaran tersebut berlaku hingga 26 Januari 2021.

Surat edaran itu juga menyebutkan bahwa PPKM merupakan atas instruksi dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Tito Karnavian. Hal tersebut sebagai upaya mencegah dan menekan penyebaran Covid-19.

Kebijakan izin operasional berlaku untuk fasilitas umum, toko, mall, cafe, warung kopi (Warkop), rumah makan, dan game center.

Selain itu, para pelaku usaha yang masuk dalam kebijakan itu diminta untuk memperketat protokol kesehatan untuk para pelanggan dan pengunjung. Serta para camat dan lurah diminta melakukan pemetaan terhadap titik-titik potensi keramaian di wilayah masing-masing.(*)

 

Reporter : akbar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *