Sidang Dugaan Perusakan Ruko di Makassar, Korban Beberkan Sejumlah Fakta

  • Whatsapp

Makassar – Sidang perkara pidana dugaan perusakan ruko
di Jalan Buru, Kecamatan Wajo, yang mendudukkan Edy Wardus sebagai terdakwa kembali digelar di Pengadilan Negeri Makassar, Rabu 13 Januari 2021.

Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ridwan Saputra menghadirkan dua orang saksi untuk didengar keterangannya.
“Tadi yang hadir itu dua orang saksi korban yakni Irawati Lauw dan Agus Tansil,” singkat Ridwan.

Dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Basuki Wiyono, Irawati Lauw membeberkan duduk perkara yang menimpanya selaku korban. Dia mengungkapkan bahwa kejadian perusakan ruko miliknya yang diduga dilakukan Edy Wardus selaku pemborong bermula pada tahun 2016 silam.

“Jadi perkara ini lama menggantung, sudah 4 tahun berlalu kami mencari keadilan yang mulia,” ucap Irawati di muka persidangan.

Ia menceritakan, dulu kondisi rukonya yang diperkirakan sudah berusia 40 tahun baik-baik saja. Nanti mengalami kerusakan setelah Jemis Kontaria (Almarhum) membangun juga ruko di sampingnya yang membuat pilar depan, dinding hingga atap di lantai dua rukonya rusak.

“Jadi ruko saya nanti rusak setelah ruko Jemis terbangun. Bangunan rukonya tepat menduduki bangunan ruko saya. Itu yang kerja adalah terdakwa (Edy Wardus) selaku pemborong pekerjaan,” jelas Irawati.

Ia pun sempat berkali-kali menegur terdakwa maupun pemilik bangunan, Jemis. Namun yang ada, keduanya hanya datang meminta maaf tanpa memperbaiki kerusakan yang ada sampai sekarang.

“Kerugian material yang kami alami sesuai dengan keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) itu senilai Rp300 juta,” sebut Irawati.

Hal yang sama juga diungkapkan saksi korban lainnya, Agus Tansil. Di depan persidangan, Agus mengaku pada saat kejadian, terdakwa bersama pemberi pekerjaan (Jemis) sempat datang menemui dirinya.

“Keduanya meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki kerusakan yang ada. Tapi kenyataannya mereka tak punya itikad baik dan sampai sekarang tak kunjung memperbaiki kerusakan yang ada,” terang Agus.

Malah, lanjut Agus, keduanya melaporkan dirinya dengan dugaan penyerobotan lahan. Meski laporan yang mereka adukan itu tidak terbukti dan akhirnya tidak berproses.

“Jadi sejak awal mereka tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah. Janji ingin memperbaiki tapi sampai sekarang tidak ada niat memperbaiki,” ungkap Agus di dalam persidangan.

Menanggapi keterangan kedua saksi korban yang dihadirkan JPU tersebut, terdakwa lakukan pembantahan.

“Semua tidak benar yang mulia,” ucap terdakwa, Edy Wardus.

Usai mendengarkan keterangan kedua saksi korban, sidang pun akhirnya ditutup dan rencana kembali digelar pekan depan. Tak hanya itu, Majelis Hakim juga berencana akan melakukan peninjauan lokasi bangunan ruko milik korban yang rusak.

“Rabu mendatang kita buka kembali yah. Sidang hari ini cukup dengan begitu sidang kita tutup,” tutur Ketua Majelis Hakim, Basuki Wiyono.

Sekedar diketahui, perkara pidana dugaan perusakan ruko milik Irawati Lauw itu awalnya ditangani Kepolisian Sektor Wajo dengan menetapkan beberapa orang buruh yang dipekerjakan oleh Almarhum Jemis Kontaria sebagai tersangka.

Jemis pun mencoba membela para buruhnya dengan melakukan upaya hukum praperadilan ke Pengadilan Negeri Makassar. Hakim tunggal, Cenning Budiana, yang memimpin sidang praperadilan kala itu menerima upaya praperadilan yang diajukan oleh para buruh.

Perkara itu pun akhirnya berhenti (SP3). Namun kasus ini kembali dilaporkan ke Polda Sulsel dan akhirnya ditetapkanlah Jemis Kontaria selaku pemberi pekerjaan dan Edi Wardus Philander selaku pemborong pekerjaan sebagai tersangka.

Keduanya pun juga sempat mengajukan upaya praperadilan ke Pengadilan Negeri Makassar. Namun sidang praperadilan yang dipimpin Hakim tunggal Basuki Wiyono menolak gugatan dan menyatakan status keduanya sebagai tersangka dinyatakan sah secara hukum dan memerintahkan agar penyidikannya segera dilanjutkan.

Namun belakangan berkas perkara tak kunjung rampung alias 3 tahun bolak-balik antara JPU dan penyidik Polda Sulsel. Korban pun sempat menyurat ke Komisi Kejaksaan hingga Komisi Perpolisian agar perkaranya bisa mendapat atensi dan akhirnya memasuki tahun keempat barulah dinyatakan rampung dan saat ini sedang bergulir di Pengadilan Negeri Makassar.(*)

 

Reporter : akbar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *