Polisi Sebut Aliran Uang Korupsi Pembangunan RS Batua Telah Terdeteksi, Sisa Pendalaman

  • Whatsapp

Makassar – Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Dir Reskrimsus Polda Sulsel), Kombes Pol Widoni Fedri mengemukakan, hasil korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Batua Makassar telah terdeteksi ke siapa saja uang haram tersebut mengalir.

” Ke mana-mana saja aliran dana proyek ini kita sudah kantongi, tinggal pendalaman lebih lanjut,” ungkap Widoni kepada wartawan saat merilis kasus tersebut di Mapolda Sulsel, Senin, 2 Agustus 2021.

Menurut Widoni, secara keseluruhan pembangunan RS Batua telah menelan anggaran sebesar Rp120 miliar lebih hingga saat ini.

Namun kata dia, proses penyidikan masih seputar penggunaan anggaran tahap pertama di tahun 2018. Pada tahun itu, pembangunan RS Batua mendapat kucuran dana sebesar Rp25 miliar lebih yang bersumber dari APBD setelah mendapat persetujuan dari Badan Anggaran DPRD Makassar.

Baca Juga :  PUKAT Sulsel Apresiasi Bareskrim Jadikan Tersangka Anak Aksa Mahmud

Dikatakan Widoni, berdasarkan hasil audit investigatif Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) terjadi kerugian negara sekitar Rp22 miliar lebih.

Di kasus ini, polisi telah menetapkan 13 orang tersangka. Mereka adalah, dokter AN (pengguna anggaran 2018), dokter SR (kuasa pengguna anggaran 2018), MA (PPTK), FM, HS (Pokja 3), NW, AS, MK, AIAS (kuasa direktur), AEH (direktur perusahaan), DR, APR, dan RP. 13 tersangka itu dianggap melanggar pasal 2 ayat 1 subsider pasal 3 Undang Undang Tipikor.

13 orang tersebut, kata Widoni Fedri, memiliki peran masing – masing dalam pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan RS Batua.

Bahkan, para tersangka telah memiliki niat jahat untuk melakukan korupsi dari awal, sebelum proyek pembangunan RS Batua dilakukan tender.

Baca Juga :  APPI-ARB Resmi Dapatkan Rekomendasi B1-KWK dari PPP

“Niat jahat itu sudah ada dari awal sebelum proses tender. Ini baru rangkaian dari proses penyidikan dan akan ada rangkaian baru lagi. Nanti bisa berkembang. Mungkin terkait pasal 55-nya ini masih banyak lagi. Jadi tidak putus di sini, ” imbuhnya.

Diketahui dari hasil penyidikan, tim penyidik Ditreskrimsus Polda Sulsel menemukan adanya indikasi korupsi kegagalan konstruksi sehingga pengerjaan pembangunan RS Batua Makassar terbengkalai hingga saat ini.

Pengerjaan proyek pembangunan RS Batua Makassar Tipe C tersebut, dikerjakan oleh perusahaan rekanan, PT Sultana Nugraha dengan menggunakan pagu anggaran yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2018 senilai Rp25 miliar lebih.

Adapun yang bertindak sebagai Konsultan Pengawas dalam pelaksanaan pekerjaan yakni perusahaan CV Sukma Lestari. Kemudian
Dinas Kesehatan Kota Makassar bertindak selaku pengelola pagu anggaran puluhan miliar tersebut.(*)

Baca Juga :  Kabar Baik, Pemprov Sulsel Izinkan Keluarga Korban Covid-19 untuk Ziarah ke Pekuburan Macanda

 

Reporter : Akbar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *